Tentang bahasanias.com

Ya’ahowu!

Li Niha

Li Niha, Bahasa Nias adalah bahasa daerah Ono Niha, dituturkan sekitar 700.000 – 1 juta orang, baik yang ada di pulau Nias maupun masyarakat di luar pulau Nias. Ono Niha artinya orang nias, atau dikenal sebagai Suku Nias yang menempati Pulau Nias dan Kepulauan Batu di Sumatera Utara.

Terdapat tiga dialek utama: Utara, Tengah, dan Selatan, dengan tingkat kesamaan kosakata sekitar 80% antar dialek. Li Niha sebagai alat komunikasi yang turun-temurun, sebagai penjaga nilai-nilai budaya, peribahasa, cerita rakyat, dan filosofi hidup suku Nias.

Li Niha atau Bahasa Nias memiliki keunikan dibandingkan dengan bahasa lain. Bahasa ini dikenal sebagai open-syllable language, artinya tidak ada konsonan di akhir suku kata atau kata, suku kata berakhir dengan vokal. Misalnya, “kotak” diucapkan sebagai “kota, “makan” diucapkan menjadi “maka”.

Keunikan lainnya, struktur bahasa Nias mengadopsi struktur predikat–subjek–objek–keterangan. Contoh sebagai berikut:

Bahasa Indonesia:    Saya pergi ke kebun besok sore
S + P + O + K
Bahasa Nias: Möi do ba kabu mahemolu bongiluo
P + S + O + K
Terjemahan bahasa Indonesia:
Pergi aku ke kebun besok sore

Tantangan Pelestarian

Saat ini ada sebuah fenomena dimana Bahasa daerah kurang digunakan atau kurang diminati untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Adanya pergeseran perilaku pewarisan bahasa kepada generasi yang lebih muda saat ini. Anak-anak generasi muda mulai enggan atau jarang menggunakan Bahasa Nias karena beberapa faktor: Orang tua di perantauan tidak selalu mengajarkan Bahasa Nias; Lingkungan sekolah dan pertemanan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa asing dan Anak merasa bukan bagian dari identitas Nias karena lahir dan tumbuh di luar wilayah asal, dan banyak faktor lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penutur Li Niha sering mengalami interferensi. Masifnya penggunaan kata-kata serapan dari Bahasa Indonesia maupun bahasa lain yang sedang tren di masyarakat. Penggunaan kata serapan ini secara perlahan menggantikan kata-kata asli dalam Bahasa Nias, sehingga banyak kosakata asli yang mulai jarang bahkan tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Kemudian minimnya konten digital berbahasa Nias menjadi salah satu penyebab utama rendahnya eksposur dan penggunaan bahasa ini, terutama di kalangan generasi muda. Di media sosial seperti Instagram, Facebook, atau TikTok, sangat jarang ditemukan unggahan atau video yang menggunakan Bahasa Nias.

Tujuan adanya bahasanias.com

Saat ini ada banyak bahasa daerah di Indonesia yang mengalami kepunahan karena tidak digunakan lagi oleh penutur asli. Menurut UNESCO dan data Ethnologue, terdapat lebih dari 7.000 bahasa yang masih digunakan dari total 8.300 bahasa di dunia, tetapi lebih dari 40% di antaranya dinilai terancam punah. Indonesia memiliki antara 715–726 bahasa daerah, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman bahasa terbanyak di dunia. Sekitar 139–154 bahasa dikategorikan terancam punah, dan 11–15 bahasa telah punah.

Bahasa daerah merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis dan identitas suatu komunitas yang harus dilestarikan. Maka dari hal di atas, pengembangan website www.bahasanias.com ini dibuat bertujuan sebagai langkah awal untuk pelestarian bahasa daerah Nias, jangan sampai punah dikemudian hari.

Di sisi lain, kemajuan teknologi di bidang Artificial Intelligence (AI) dan Natural Language Processing (NLP) membuka peluang baru dalam pelestarian bahasa daerah. Saat ini, berbagai aplikasi berbasis AI seperti machine translation, speech recognition, dan conversational agents memerlukan dataset linguistik yang kaya dan terstruktur. Bahasa Nias memiliki potensi untuk dimasukkan ke dalam sistem AI yang mampu mempelajari, mengenali, bahkan menggunakan bahasa tersebut.

Perancangan website ini menjadi langkah awal atau bagian dari pelestarian Bahasa Nias atau Li Niha secara digital dan membuka kemungkinan integrasi dengan bidang pendidikan bahasa, budaya dan teknologi.

Akhir kata, terimakasih atas perhatiannya dan sudah mengunjungi website ini. Anda bisa memberikan masukan dan berkontribusi dengan menghubungi kami. Saohagölö, terimakasih. Ya’ahowu.

Harkat C. Zamasi
harkatzamasi@gmail.com

Sambua mbanua sambua huku, sara idanõ, sambua ugu-ugu